Manusia dan Masyarakat
1. MANUSIA
Sebenarnya manusia telah mencurahkan perhatian
dan usaha yang sangat besar untuk mengetahui dirinya,
kendatipun kita memiliki perbendaharaan yang cukup banyak dari
hasil penelitian para ilmuwan, filosof, sastrawan, dan para ahli di
bidang keruhanian sepanjang masa ini. Tapi kita (manusia) hanya
mampu mengetahui beberapa segi tertentu dari diri kita. Kita
tidak mengetahui manusia secara utuh. Yang kita ketahui hanyalah
bahwa manusia terdiri dari bagian-bagian tertentu, dan ini pun pada
hakikatnya dibagi lagi menurut tata cara kita sendiri. Pada
hakikatnya, kebanyakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh
mereka yang mempelajari manusia –kepada diri mereka– hingga kini
masih tetap tanpa jawaban.
Keterbatasan pengetahuan manusia tentang dirinya itu disebabkan oleh:- Pembahasan tentang masalah manusia terlambat dilakukan, karena pada mulanya perhatian manusia hanya tertuju pada penyelidikan tentang alam materi. Pada zaman primitif, nenek moyang kita disibukkan untuk menundukkan atau menjinakkan alam sekitarnya, seperti upaya membuat senjata-senjata melawan binatang-binatang buas, penemuan api, pertanian, peternakan, dan sebagainya sehingga mereka tidak mempunyai waktu luang untuk memikirkan diri mereka sebagai manusia. Demikian pula halnya Pada Zaman Kebangkitan (Renaisans) ketika para ahli digiurkan oleh penemuan-penemuan baru mereka yang disamping menghasilkan keuntungan material, juga menyenangkan publik secara umum karena penemuan-penemuan tersebut mempermudah dan memperindah kehidupan ini.
- Ciri khas akal manusia yang lebih cenderung memikirkan hal-hal yang tidak kompleks. Ini disebabkan oleh sifat aka1 kita seperti yang dinyatakan oleh
- Multikompleksnya masalah manusia.
Jika apa yang dikemukakan oleh A. Carrel itu
diterima, maka satu-satunya jalan untuk mengenal dengan baik siapa
manusia, adalah merujuk kepada wahyu Ilahi, agar kita dapat menemukan
jawabannya.
Untuk maksud tersebut tentu tidak cukup dengan hanya merujuk
kepada satu dua ayat, tetapi seharusnya merujuk kepada semua ayat
Al-Quran (atau paling tidak ayat-ayat pokok) yang berbicara
tentang masalah yang dibahas, dengan mempelajari konteksnya
masing-masing, dan mencari penguat-penguatnya baik dari penjelasan
Rasul, maupun hakikat-hakikat ilmiah yang telah mapan. Cara ini
dikenal dalam disiplin ilmu Al-Quran dengan metode maudhu’i
(tematis).Istilah Manusia dalam Al-Quran
Ada tiga kata yang digunakan Al-Quran untuk menunjuk kepada manusia.
l. Menggunakan kata yang terdiri dari huruf alif, nun, dan sin, semacam insan, ins, nas, atau unas.
- Menggunakan kata basyar.
- Menggunakan kata Bani Adam, dan zuriyat Adam.
Kata basyar terambil dari akar kata yang pada mulanya
berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang
sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamai basyar
karena kulitnya tampak jelas, dan berbeda dengan kulit binatang yang
lain.
Al-Quran menggunakan kata ini sebanyak 36 kali dalam bentuk
tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna (dual) untuk menunjuk manusia
dari sudut lahiriahnya serta persamaannya dengan manusia
seluruhnya. Karena itu Nabi Muhammad Saw. diperintahkan untuk
menyampaikan bahwa,Aku adalah basyar (manusia) seperti kamu yang diberi wahyu (QS Al-Kahf [18]: 110).
Dari sisi lain diamati bahwa banyak ayat-ayat Al-Quran yang menggunakan kata basyar yang mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia sebagai basyar, melalui tahap-tahap sehingga mencapai tahap kedewasaan.
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya
(Allah) menciptakan kamu dari tanah, kemudian ketika kamu
menjadi basyar kamu bertebaran (QS Al-Rum [30]: 20).
Bertebaran di sini bisa diartikan berkembang biak akibat
hubungan seks atau bertebaran mencari rezeki. Kedua hal ini tidak
dilakukan oleh manusia kecuali oleh orang yang memiliki kedewasaan dan
tanggung jawab. Karena itu pula Maryam a.s. mengungkapkan
keheranannya dapat memperoleh anak, padahal dia belum pernah disentuh
oleh basyar (manusia dewasa yang mampu berhubungan seks) (QS Ali
‘Imran [3]: 47). Kata basyiruhunna yang digunakan oleh Al-Quran sebanyak
dua kali (QS Al-Baqarah[2]: 187), juga diartikan dengan hubungan seks.
Demikian terlihat basyar dikaitkan dengan kedewasaan dalam kehidupan manusia, yang menjadikannya mampu memikul tanggung jawab. Dan karena itu pula, tugas kekhalifahan dibebankan kepada basyar {perhatikan QS Al-Hijr 115): 28 yang menggunakan kata basyar), dan QS Al-Baqarah (2): 30 yang menggunakan kata khalifah, yang keduanya mengandung pemberitaan Allah kepada malaikat tentang manusia.
Kata insan terambil dari akar kata uns yang berarti jinak, harmonis, dan tampak. Pendapat ini, jika ditinjau dari sudut pandang Al-Quran lebih tepat dari yang berpendapat bahwa ia terambil dan kata nasiya (lupa), atau nasa-yanusu
(berguncang).
Kitab Suci Al-Quran –seperti tulis Bint Al-Syathi’ dalam Al-Quran wa Qadhaya Al-Insan– seringkali memperhadapkan insan dengan jin/jan. Jin adalah makhluk halus yang tidak tampak, sedangkan manusia adalah makhluk yang nyata lagi ramah.
Kata insan, digunakan Al-Quran untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Manusia yang berbeda antara seseorang dengan yang lain, akibat perbedaan fisik, mental, dan kecerdasan.
Produksi dan Reproduksi Manusia
Al-Quran menguraikan produksi dan reproduksi manusia. Ketika berbicara tentang penciptaan manusia pertama, Al-Quran menunjuk kepada sang Pencipta dengan menggunakan pengganti nama berbentuk tunggal:
Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dan tanah
(QS Shad [38]: 71).
Apa yang menghalangi kamu (iblis) sujud kepada apa yang Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku? (0S Shad
[38]: 75).
Tetapi ketika berbicara tentang reproduksi manusia secara umum, Yang Maha Pencipta ditunjuk dengan menggunakan bentuk jamak. Demikian kesimpulan kita kalau membaca surat At-Tin ayat 4:
Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Ha1 itu untuk menunjukkan perbedaan proses kejadian manusia secara umum dan proses kejadian Adam a.s. Penciptaan manusia secara umum, melalui proses keterlibatan Tuhan bersama selain-Nya, yaitu ibu dan bapak. Keterlibatan ibu dan bapak mempunyai pengaruh menyangkut bentuk fisik dan psikis anak, sedangkan dalam penciptaan Adam, tidak terdapat keterlibatan pihak lain termasuk ibu dan bapak.
Al-Quran tidak menguraikan secara rinci proses kejadian Adam, yang oleh mayoritas ulama dinamai manusia pertama. Yang disampaikannya dalam konteks ini hanya:
- Bahan awal manusia adalah tanah.
- Bahan tersebut disempurnakan.
- Setelah proses penyempurnaannya selesai, ditiupkan kepadanya ruh Ilahi (QS Al-Hijr [15]: 28-29; Shad
Apa dan bagaimana penyempurnaan itu, tidak disinggung oleh Al-Quran. Dari sini, terdapat sekian banyak cendekiawan dan ulama Islam, jauh sebelum Darwin yang melakukan penyelidikan dan analisis sehingga berkesimpulan bahwa manusia diciptakan melalui fase atau evolusi tertentu, dan bahwa ada tingkat-tingkat tertentu menyangkut ciptaan Allah. Nama-nama seperti Al-Farabi (783-950 M), Ibnu Miskawaih (Wafat 1030 M), Muhammad bin Syakir Al-Kutubi (1287- 1363 M), Ibnu Khaldun (1332-1406 M) dapat disebut sebagai tokoh-tokoh paham evolusi sebelum lahirnya teori evolusi Darwin (1804-1872 M). Perlu ditambahkan bahwa kesimpulan ulama-ulama tersebut tidak sepenuhnya sama dalam rincian teori evolusi yang dirumuskan oleh Darwin.
Dari sini pula dapat dimengerti uraian pakar tafsir Syaikh Muhammad Abduh yang menyatakan bahwa seandainya teori Darwin tentang proses penciptaan manusia dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah, maka tidak ada alasan dari Al-Quran untuk menolaknya. Al-Quran hanya menguraikan proses pertama, pertengahan, dan akhir. Apa yang terjadi antara proses pertama dan pertengahan, serta antara pertengahan dan akhir, tidak dijelaskannya
Abbas Al-Aqad, seorang ilmuwan dan ulama Mesir kontemporer, dalam bukunya Al-Insan fi Al-Quran (Manusia dalam Al-Quran) mempersilakan setiap Muslim, untuk –menerima atau menolak teori itu– berdasarkan penelitian ilmiah, tanpa melibatkan Al-Quran sedikit pun, karena Al-Quran tidak berbicara secara rinci tentang proses kejadian manusia pertama.
Potensi Manusia
Yang banyak dibicarakan oleh Al-Quran tentang manusia adalah sifat-sifat dan potensinya. Dalam hal ini, ditemukan sekian ayat yang memuji dan memuliakan manusia, seperti pernyataan tentang terciptanya manusia dalam bentuk dan keadaan yang sebaik-baiknya (QS Al-Tin [95]: 5), dan penegasan tentang dimuliakannya makhluk ini dibanding dengan kebanyakan makhluk-makhluk Allah yang lain (QS Al-Isra’ [17]: 70) Tetapi, di samping itu sering pula manusia mendapat celaan Tuhan karena ia amat aniaya dan mengingkari nikmat (QS Ibrahlm [14]: 34), sangat banyak membantah (QS Al-Kahf [18]: 54), dan bersifat keluh kesah lagi kikir (QS Al-Ma’arij [70]: l9), dan masih banyak lagi lainnya.
Ini bukan berarti bahwa ayat-ayat Al-Quran bertentangan satu dengan lainnya, akan tetapi ayat-ayat tersebut menunjukkan beberapa kelemahan manusia yang harus dihindarinya. Disamping menunjukkan bahwa makhluk ini mempunyai potensi (kesediaan) untuk menempati tempat tertinggi sehingga ia terpuji, atau berada di tempat yang rendah sehingga ia tercela.
Seperti dikemukakan di atas, Al-Quran menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah dan setelah sempurna kejadiannya dihembuskanlah kepadanya Ruh Ilahi (QS Shad [38]: 71-72) .
Dari sini jelas bahwa manusia merupakan kesatuan dua unsur pokok, yang tidak dapat dipisahkan karena bila dipisahkan maka ia bukan manusia lagi. Sebagaimana halnya air yang merupakan perpaduan antara oksigen dan hidrogen dalam kadar-kadar tertentu. Bila kadar oksigen dan hidrogennya dipisahkan, maka ia tidak akan menjadi air lagi.
Potensi manusia dijelaskan oleh Al-Quran antara lain melalui kisah Adam dan Hawa (QS Al-Baqarah [2]: 30-39).
Dalam ayat itu dijelaskan bahwa sebelum kejadian Adam, Allah telah merencanakan agar manusia memikul tanggung jawab kekhalifahan di bumi. Untuk maksud tersebut di samping tanah (jasmani) dan Ruh Ilahi (akal dan ruhani), makhluk ini dianugerahi pula:
- Potensi untuk mengetahui nama dan fungsi benda-benda alam.
- pengalaman hidup di surga, baik yang berkaitan dengan kecukupan dan kenikmatannya, maupun rayuan
Pengalaman di surga adalah arah yang harus dituju dalam membangun dunia ini, kecukupan sandang, pangan, dan papan, serta rasa aman terpenuhi (QS Thaha [20]: 116-ll9), sekaligus arah terakhir bagi kehidupannya di akhirat kelak. Sedangkan godaan Iblis, dengan akibat yang sangat fatal itu, adalah pengalaman yang amat berharga dalam menghadapi rayuan Iblis di dunia, sekaligus peringatan bahwa jangankan yang belum masuk, yang sudah masuk ke surga pun, bila mengikuti rayuannya akan terusir.
c.Petunjuk-petunjuk keagamaan.
Masih banyak ayat-ayat lain yang dapat dikemukakan tentang sifat dan potensi manusia serta arah yang harus ia tuju.
Dari kitab suci Al-Quran dan hadis-hadis Nabi Saw. diperoleh informasi serta isyarat-isyarat yang boleh jadi dapat mengungkap sebagian misteri makhluk ini. Namun demikian, pemahaman atau informasi dan isyarat tersebut tidak dapat dilepaskan dari subjektivitas manusia, sehingga ia tetap mengandung kemungkinan benar atau salah, seperti halnya yang dikemukakan oleh tulisan ini.
Secara tegas Al-Quran mengemukakan bahwa manusia pertama diciptakan dari tanah dan Ruh Ilahi melalui proses yang tidak dijelaskan rinciannya, sedangkan reproduksi manusia, walaupun dikemukakan tahapan-tahapannya, namun tahapan tersebut lebih banyak berkaitan dengan unsur tanahnya.
Isyarat yang menyangkut unsur immaterial, ditemukan antara lain dalam uraian tentang sifat-sifat manusia, dan dari uraian tentang fithrah, nafs, qalb, dan ruh yang menghiasi makhluk manusia. Berikut dicoba untuk memahami istilah-istilah tersebut.
Fithrah
Dari segi bahasa, kata fithrah terambil dari akar kata al-fathr yang berarti belahan, dan dari makna ini lahir makna-makna lain antara lain “penciptaan” atau “kejadian”.
Konon sahabat Nabi, Ibnu Abbas tidak tahu persis makna kata fathir pada ayat-ayat yang berbicara tentang penciptaan langit dan bumi sampai ia mendengar pertengkaran tentan kepemilikan satu sumur. Salah seorang berkata, “Ana fathar tuhu”. Ibnu Abbas memahami kalimat ini dalam arti, “Saya yang membuatnya pertama kali.” Dan dari situ Ibnu Abbas memahami bahwa kata ini digunakan untuk penciptaan atau kejadian sejak awal.
Fithrah manusia adalah kejadiannya sejak semula atau bawaan sejak lahirnya.
Dalam Al-Quran kata ini dalam berbagai bentuknya terulang sebanyak dua puluh delapan kali, empat belas diantaranya dalam konteks uraian tentang bumi dan atau langit. Sisanya dalam konteks penciptaan manusia baik dari sisi pengakuan bahwa penciptanya adalah Allah, maupun dari segi uraian tentang fitrah manusia. Yang terakhir ini ditemukan sekali yaitu pada surat Al-Rum ayat 30:
Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama, (pilihan) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
Merujuk kepada fitrah yang dikemukakan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia sejak asal kejadiannya, membawa potensi beragama yang lurus, dan dipahami oleh para ulama sebagai tauhid.
Selanjutnya dipahami juga, bahwa fitrah adalah bagian dan khalq (penciptaan) Allah.
Kalau kita memahami kata la pada ayat tersebut dalam arti “tidak”, maka ini berarti bahwa seseorang tidak dapat menghindar dari fitrah itu. Dalam konteks ayat ini, ia berarti bahwa fitrah keagamaan akan melekat pada diri manusia untuk selama lamanya, walaupun boleh jadi tidak diakui atau diabaikannya.
Tetapi apakah fitrah manusia hanya terbatas pada
fitrah keagamaan? Jelas tidak. Bukan saja karena redaksi ayat ini
tidak dalam bentuk pembatasan tetapi juga karena masih ada ayat-ayat
lain yang membicarakan tentang penciptann potensi manusia
–walaupun tidak menggunakan kata fitrah, seperti misalnya:
Telah dihiaskan kepada manusia kecenderungan
hati kepada perempuan (atau lelaki), anak lelaki (dari
perempuan), serta harta yang banyak berupa emas, perak, kuda
pilihan, binatang ternak dan sawah ladang
(QS Ali ‘Imran [3]: 14).Karena itu agaknya tepat kesimpulan Muhammad bin Asyur dalam tafsirnya tentang surat Al-Rum (30): 30, yang menyatakan bahwa:
Fitrah adalah bentuk dan sistem yang diwujudkan
Allah pada setiap makhluk. Fitrah yang berkaitan dengan
manusia adalah apa yang diciptakan Allah pada manusia yang
berkaitan dengan jasmani dan akalnya (serta ruhnya).
Manusia berjalan dengan kakinya adalah fitrah
jasadiahnya, sementara menarik kesimpulan melalui premis-premis
adalah fitrah akliahnya. Senang menerima nikmat dan sedih bila
ditimpa musibah juga adalah fitrahnya.
NafsKata nafs dalam Al-Quran mempunyai aneka makna, sekali diartikan sebagai totalitas manusia, seperti antara lain maksud surat Al-Maidah ayat 32, di kali lain ia menunjuk kepada apa yang terdapat dalam diri manusia yang menghasilkan tingkah laku seperti maksud kandungan firman Allah.
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan satu masyarakat, sehingga mereka mengubah apa yang terdapat
dalam diri mereka (QS Al-Ra’d [13]: 11)
Kata nafs digunakan juga untuk menunjuk kepada “diri
Tuhaan” (kalau istilah ini dapat diterima), seperti dalam firman-Nya
dalam surat Al-An’am {6): 19:
Allah mewajibkan atas diri-Nya menganugerahkan rahmat.Secara umum dapat dikatakan bahwa nafs dalam konteks pembicaraan tentang manusia, menunjuk kepada sisi dalam manusia yang berpotensi baik dan buruk.
Dalam pandangan Al-Quran, nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna untuk berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dar1 keburukan, dan karena itu sisi dalam manusia inilah yang oleh Al-Quran dianjurkan untuk diberi perhatian lebih besar.
Demi nafs serta penyempurnaan ciptaan, Allah mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwann (QS
Al-Syams [91]: 7-8).
Mengilhamkan berarti memberi potensi agar manusia
melalui nafs dapat menangkap makna baik dan buruk, serta dapat
mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan keburukan.
Di sini antara lain terlihat perbedaan pengertian kata ini
menurut Al-Quran dengan terminologi kaum sufi, yang oleh
Al-Qusyairi dalam risalahnya dinyatakan bahwa, “Nafs dalam
pengertian kaum sufi adalah sesuatu yang melahirkan sifat tercela
dan perilaku buruk.” Pengertian kaum sufi ini sama dengan
penjelasan Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang antara lain, menjelaskan
arti kata nafsu, sebagai “dorongan hati yang kuat untuk berbuat kurang
baik”.
Walaupun Al-Quran menegaskan bahwa nafs berpotensi
positif dan negatif, namun diperoleh pula isyarat bahwa pada
hakikatnya potensi positif manusia lebih kuat dari potensi
negatifnya, hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat dari daya
tarik kebaikan. Karena itu manusia dituntut agar memelihara kesucian
nafs, dan tidak mengotorinya,
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang
menyucikannya dan merugilah orang-orang yang mengotorinya (QS
Al-Syams [91]: 9-10)
Bahwa kecenderungannya kepada kebaikan lebih kuat dipahami dari isyarat beberapa ayat, antara lain firman-Nya:
Allah tidak membebani seseorang melainkan
sesuai dengan kesanggupannya. Nafs memperoleh ganjaran dan apa
yang diusahakannya, dan memperoleh siksa dari apa
yang diusahakannya (QS Al-Baqarah [2]: 286)Kata kasabat yang dalam ayat di atas menunjuk kepada usaha baik sehingga memperoleh ganjaran, adalah patron yang digunakan bahasa Arab untuk menggambarkan pekerjaan yang dilakukan dengan mudah, sedangkan iktasabat adalah patron yang digunakan untuk menunjuk kepada hal-hal yang sulit lagi berat. Ini –menurut pakar Al-Quran Muhammad Abduh– mengisyaratkan bahwa nafs pada hakikatnya lebih mudah melakukan hal-hal yang baik daripada melakukan kejahatan, dan pada gilirannya mengisyaratkan bahwa manusia pada dasarnya diciptakan Allah untuk melakukan kebaikan.
Ayat lain yang sejalan dengan isyarat di atas, adalah firman-Nya
Wahai manusia! Apa yang memperdayakanmu (berbuat
dosa) terhadap Tuhanmu yang telah menciptakan engkau,
menyempurnakan kejadianmu, dan menjadikan engkau “adil” (seimbang
atau cenderung kepada keadilan) (QS
Al-Infithar [82): 6-7).Kata "menjadikan engkau adil" dipahami oleh sementara pakar seperti Yusuf Ali sebagai kecenderungan berbuat adil. Pendapat ini cukup beralasan, karena dengan pemahaman semacam itu, menjadi amat lurus kecaman Allah terhadap manusia yang mendurhakainya.
Al-Quran juga mengisyaratkan keanekaragaman nafs serta peringkat-peringkatnya, secara eksplisit disebutkan tentang an-nafs al-lawamah, ammarah, dan muthmainnah.
Di sisi lain ditemukan pula isyarat bahwa nafs merupakan wadah.Firman Allah dalam surat Al-Ra'd (13): 11 yang dikutip di atas, mengisyaratkan bahwa nafs menampung paling tidak gagasan dan kemauan. Suatu kaum tidak dapat berubah keadaan lahiriahnya, sebelum mereka mengubah lebih dulu apa yang ada dalam wadah nafs-nya. Yang ada di sini antara lain adalah gagasan dan kemauan atau tekad untuk berubah. Gagasan yang benar, yang disertai dengan kemauan satu kelompok masyarakat, dapat mengubah keadaan masyarakat itu. Tetapi gagasan saja tanpa kemauan, atau kemauan saja tanpa gagasan tidak akan menghasilkan perubahan.
Yang terdapat dalam wadah nafs bukan hanya gagasan dan
kemauan yang disadari manusia, tetapi juga menampung sekian banyak hal
lainnya, bahkan boleh jadi ada hal-hal yang sudah hilang dari ingatan
pemiliknya.
Al-Quran mengisyaratkan hal tersebut,Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguh nya
Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi (QS
Thaha [20]: 7).
Yang lebih tersembunyi dan rahasia adalah yang terdapat
dalam “bawah sadar manusia”, sedangkan yang tersembunyi adalah “yang
disadari manusia namun dirahasiakannya.”
Khalifah keempat Ali bin Abi Thalib pernah berkata:Tidak seorangpun menyembunyikan sesuatu kecuali tampak pada salah ucapnya atau air mukanya.
Apa yang ada dalam nafs dapat juga muncul dalam mimpi, yang oleh Al-Quran pada garis besarnya dibagi dalam dua bagian pokok. Pertamaa dinamainya ru’ya dan kedua dinamainya adhghatsu ahlam. Yang pertama dipahami sebagai gambaran atau simbol dari peristiwa yang telah, sedang, atau akan dialami, dan yang belum atau tidak terlintas dalam benak yang memimpikannya. Yang kedua lahir dan keresahan atau perhatian manusia terhadap sesuatu dan hal-hal yang telah berada di bawah sadarnya.
Dalam wadah nams terdapat qalb.
Qalb
Kata qalb terambil dari akar kata yang bermakna membalik karena seringkali ia berbolak-balik, sekali senang sekali susah, sekali setuju dan sekali menolak. qa1b amat berpotensi untuk tidak konsisten. Al-Quran pun menggambarkan demikian, ada yang baik, ada pula sebaliknya. Berikut beberapa contoh.
- Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang memiliki kalbu, atau yang mencurahkan pendengaran lagi menjadi saks~ (QS
- Kami jadikan dalam kalbu orang-orang yang mengikuti (Isa a.s ) kasih sagang dan rahmat (QS Al-Hadid [57]: 27).
- Kami akan mencampakkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut (QS Ali ‘Imran [3]: 151).
- Dia (Allah) menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menghiasinya indah dalam kalbumu (QS Al-Hujurat
Dari ayat-ayat di atas terlihat bahwa kalbu adalah wadah dari pengajaran, kasih sayang, takut, dan keimanan. Dari isi kalbu yang dijelaskan oleh ayat-ayat di atas (demikian juga ayat-ayat lainnya), dapat ditarik kesimpulan bahwa kalbu memang menampung hal-hal yang disadari oleh pemiliknya. Ini merupakan salah satu perbedaan antara kalbu dan nafs. Bukankah seperti yang dinyatakan sebelumnya bahwa nafs menampung apa yang berada di bawah sadar, dan atau sesuatu yang tidak diingat lagi?
Dari sini dapat dipahami mengapa yang dituntut untuk dipertanggungiawabkan hanya isi kalbu bukan isi nafs,
Allah menuntut tanggungjawab kau menyangkut apa yang dilakukan oleh kalbu kamu (95 Al-Baqarah [2]: 225).
Namun dinyatakan bahwa,
Allah lebih mengetahui (dari kamu sendiri) apa yang terdapat dalam nafs (diri kamu) (QS Al-Isra’ [17]: 25)
Di sisi lain seperti dikemukakan di atas, bahwa nafs adalah “sisi dalam” manusia, kalbu pun demikian, hanya saja kalbu berada dalam satu kotak tersendiri yang berada dalam kotak besar nafs.
Dalam keadaannya sebagai kotak, maka tentu saja ia dapat
diisi dan atau diambil isinya, seperti yang digambarkan ayat-ayat
berikut ini:
Kami cabut apa yang terdapat dalam kalbu mereka
rasa iri, sehingga mereka semua merasa bersaudara duduk
berhadap-hadapan di atas dipan-dipan (QS Al-Hijr [15]:
47)Belum lagi masuk keimanan ke dalam kalbu kamu (QS
Al-Hujurat [49]: 14).
Bahkan Al-Quran menggambarkan bahwa ada kalbu yang disegel: Allah telah mengunci mati kalbu mereka (QS Al-Baqarah [2]: 7), sehingga wajar jika Al-Quran menyatakan bahwa ada kunci-kunci penutup kalbu (QS Muhammad [47]:24). Wadah kalbu dapat diperbesar, diperkecil, atau dipersempit. Ia diperlebar dengan amal-amal kebajikan serta olah jiwa. Al-Quran mengatakan, “mereka itulah yang diperluas kalbunya untuk menampung takwa” (QS Al-Hujurat [49]: 3). Bukankah kami telah memperluas dadamu? (QS Alam Nasyrah [94]: 1). Dan siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, Dia menjadikan dada (kalbu)nya sempit lagi sesak (QS Al-An’am [6]: 125).
Perlu ditambahkan bahwa Al-Quran –sesuai dengan kaidah bahasa Arab– seringkali menggunakan bagian dari sesuatu untuk menunjuk keseluruhan bagian-bagiannya, seperti menggunakan kata sujud dalam arti shalat yang mencakup berdiri, rukuk, dan lain-lain. Al-Quran juga biasa menyebut sesuatu yang menggambarkan keseluruhan bagian-bagian, tetapi yang dimaksud hanyalah salah satu bagiannya seperti firman-Nya “mereka memasukkan jari-jari mereka ke dalam telinganya” (QS Al-Baqarah [2]: 19) dalam arti ujung jari-jari. Al-Quran terkadang menggunakan kata nafs dalam arti kalbu. Biasa juga menyebut tempat sesuatu tetapi yang dimaksud adalah isinya, seperti “tanyakanlah kampung” (QS Yusuf [12]: 82), yang dimaksud adalah penghuninya, demikian seterusnya.
Kata dada dalam ayat di atas adalah tempat kalbu sebagai mana ditegaskan
Sesungguhnya bukan mata yang buta, tetapi kalbu yang berada di dalam dada (QS Al-Hajj [22]: 46).
Dalam beberapa ayat, kata qalb yang merupakan wadah itu, dipahami dalam arti “alat” seperti dalam firman-Nya: Mereka mempunyai kalbu, tetapi tidak dõgunakan untuk memahami (QS Al-A’raf [7]: 179). Kalbu sebagai alat, dilukiskan pula dengan fu’ad (seperti dalam firman-Nya: Allah mengeluarkan kamu dan perut ibumu da1am keadaan tidak mengetahui sesuatu. Maka Dia memberikanmu (alat-alat) pendengaran, (alat-alat) penglihatan, serta (banyak) hati agar kamu bersyukur (menggunakannya untuk memperoleh pengetahuan) (QS Al-Nahl [16]: 78) .
Membersihkan kalbu, adalah salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan. Imam Al-Ghazali memberi contoh mengenai kalbu sebagai wadah pengetahuan, serta cara mengisinya. “Kalau kita membayangkan satu kolam yang digali di tanah, maka untuk mengisinya dapat dilakukan dengan mengalirkan air sungai –dari atas– ke dalam kolam itu. Tetapi bisa juga dengan menggali dan menyisihkan tanah yang menutupi mata air. Jika itu dilakukan, maka air akan mengalir dari bawah ke atas untuk memenuhi kolam, dan air itu, jauh lebih jernih dari air sungai yang mengalir dari atas. Kolam adalah kalbu, air adalah pengetahuan, sungai adalah pancaindera dan eksperimen. Sungai (pancaindera) dapat dibendung atau ditutup, selama tanah yang berada di kolam (kalbu) dibersihkan agar air (pengetahuan) dari mata air memancar ke atas (kolam).
Al-Quran juga menegaskan bahwa Allah Swt. dapat mendinding manusia dengan kalbunya.
Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah mendinding antara manusia dan hatinya (0S Al-Anfal [8]: 24).
Salah satu makna ayat ini adalah bahwa Allah menguasai kalbu manusia, sehingga mereka yang merasakan kegundahan dan kesulitan dapat bermohon kepada-Nya untuk menghilangkan kerisauan dan penyakit kalbu yang dideritanya. Ayat ini sangat berkaitan dengan firman-Nya dalam Al-Ra’d (13): 28:
Sesungguhnya hanya dengan mengingat Allah hati akan tenteram.
Demikian sekelumit dari pengertian dan peranan hati yang diperoleh dari isyarat-isyarat Al-Quran.
Ruh
Berbicara tentang ruh, Al-Quran mengingatkan kita akan firman-Nya:
Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah,
“Ruh adalah urusan Tuhan-Ku, kamu tidak diberi ilmu kecuali sedikit” (QS Al-Isra’ [17]: 85)
Apa yang dimaksud dengan pertanyaan tentang ruh di sini? Apakah substansinya? Kekekalan atau kefanaannya, kebahagiaan atau kesengsaraannya? Tidak jelas. Selain itu, apa yang dimaksud dengan “kamu tidak diberi ilmu kecuali sedikit”? Yang sedikit itu apa? Apakah yang berkaitan dengan ruh? Sehingga ada informasi sedikit tentang ruh, misalnya gejala-gejalanya? Ataukah “yang sedikit itu” adalah ilmu pengetahuan kita, tidak termasuk di dalamnya ruh, karena ilmu kita hanya sedikit.
Yang menambah sulitnya persoalan adalah bahwa kata ruh terulang di dalam Al-Quran sebanyak dua puluh empat kali dengan berbagai konteks dan berbagai makna, dan tidak semua berkaitan dengan manusia. Dalam surat Al-Qadar misalnya dibicarakan tentang turunnya malaikat dan ruh pada malam Lailat Al-Qadr. Ada juga uraian tentang ruh yang membawa
Al-Quran.
Kata ruh yang dikaitkan dengan manusia juga dalam konteks yang bermacam-macam, ada yang hanya dianugerahkan Allah kepada manusia pilihan-Nya (QS Al-Mu’min [40]: 15) yang dipahami oleh sementara pakar sebagai wahyu yang dibawa malaikat Jibril, ada juga yang dianugerahkannya kepada orang-orang Mukmin (QS Al-Mujadilah [58]: 22) dan di sini dipahami sebagai dukungan dan peneguhan hati atau kekuatan batin; dan ada juga yang
dianugerahkannya kepada seluruh manusia,
Kemudian Kuhembuskan kepadanya dan ruh-Ku.
Apakah di sini dia berarti nyawa? Ada yang berpendapat demikian, ada juga yang menolak pendapat ini, karena dalam Surat Al-Mu’minun dijelaskan bahwa dengan ditiupkannya ruh maka menjadilah makhluk ini khalq akhar (makhluk yang unik), yang berbeda dari makhluk lain. Sedangkan nyawa juga dimiliki oleh orang utan, misalnya. Kalau demikian nyawa bukan unsur yang menjadikan manusia makhluk yang unik.
Demikian terlihat Al-Quran berbicara tentang ruh dalam
makna yang beraneka ragam, sehingga sungguh sulit untuk menetapkan
maknanya apalagi berbicara tentang substansinya.
Dalam beberapa hadis, ada disinggung tentang ruh, misalnya sabda Nabi Saw.,
Ruh-ruh adalah himpunan yang terorganisasi,
yang saling mengenal akan bergabung, dan yang tidak saling
mengenal akan berselisih.
Hadis di atas seringkali dirangkaikan dengan ungkapan yang dikenal luas dalam literatur keagamaan:Burung-burung akan bergabung dengan jenisnya.
Hadis ini, sekali lagi tidak membicarakan apa yang
disebut ruh tersebut? Dia hanya mengisyaratkan tentang
keanekaragamannya, dan bahwa manusia mempunyai kecenderungan yang
berbeda-beda, dan setiap pemilik kecenderungan jiwanya akan bergabung
dengan sesamanya.
Demikian kembali kita bertanya, “Apa ruh itu dan bagaimana ia?” Penulis lebih tenang dan mantap menjawab,Katakanlah, “Ruh adalah urusan Tuhan-Ku.” Kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit.
‘Aql
Kata ‘aql (akal) tidak ditemukan dalam Al-Quran, yang ada adalah bentuk kata kerja –masa kini, dan lampau. Kata tersebut dari segi bahasa pada mulanya berarti tali pengikat, penghalang. Al-Quran menggunakannya bagi “sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau dosa.” Apakah sesuatu itu? Al-Quran tidak menjelaskannya secara eksplisit, namun dari konteks ayat-ayat yang menggunakan akar kata ‘aql dapat dipahami bahwa ia antara lain adalah:
a. Daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu, seperti firman-Nya dalam QS Al-’Ankabut (29): 43.
Demikian itulah perumpamaan-perumpamaan yang
Kami berikan kepada manusia, tetapi tidak ada yang memahaminya
kecuali orang-orang alim (berpengetahuan)
(QS Al-’Ankabut [29]: 43)Daya manusia dalam hal ini berbeda-beda. Ini diisyaratkan Al-Quran antara lain dalam ayat-ayat yang berbicara tentang kejadian langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, dan lain-lain. Ada yang dinyatakan sebagai bukti-bukti keesaan Allah Swt. bagi “orang-orang berakal” (QS Al-Baqarah [2]: 164), dan ada juga bagi Ulil Albab yang juga dengan makna sama, tetapi mengandung pengertian lebih tajam dari sekadar memiliki pengetahuan.
Keanekaragaman akal dalam konteks menarik makna dan menyimpulkannya terlihat juga dari penggunaan istilah-istilah semacam nazhara, tafakkur, tadabbur, dan sebagainya yang semuanya mengandung makna mengantar kepada pengertian dan kemampuan pemahaman.
- Dorongan moral, seperti firman-Nya,
… dan janganlah kamu mendekati
perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak atau tersembunyi, dan
jangan kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah dengan sebab
yang benar. Demikian itu diwasiatkan Tuhan kepadamu, semoga kamu
memiliki dorongan moral untuk meninggalkannya (QS Al-’Anam [6]:
151).
- Daya untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan serta
Untuk maksud ini biasanya digunakan kata rusyd. Daya ini menggabungkan kedua daya di atas, sehingga ia mengandung daya memahami, daya menganalisis, dan menyimpulkan, serta dorongan moral yang disertai dengan kematangan berpikir. Seseorang yang memiliki dorongan moral, boleh jadi tidak memiliki daya nalar yang kuat, dan boleh jadi juga seseorang yang memiliki daya pikir yang kuat, tidak memiliki dorongan moral, tetapi seseorang yang memiliki rusyd, maka dia telah menggabungkan kedua keistimewaan tersebut. Dari sini dapat dimengerti
mengapa penghuni neraka di hari kemudian berkata,
Seandainya kami mendengar dan berakal maka pasti kami tidak termasuk penghuni neraka (QS Al-Mulk [67]: l0)
Demikian sekilas tentang pengertian kata-kata yang boleh jadi dapat menggambarkan sekilas tentang manusia dalam pandangan Al-Quran. Penulis sepenuhnya sadar bahwa uraian di atas amat terbatas. Uraian yang memadai mungkin dapat diperoleh dengan kerja sama pakar-pakar Al-Quran dengan Pakar dalam berbagai disiplin ilmu lain. []
2. Perempuan
Sejarah menginformasikan bahwa sebelum turunnya Al-Quran
terdapat sekian banyak peradaban besar, seperti Yunani, Romawi.
India, dan Cina. Dunia juga mengenal agama-agama seperti Yahudi,
Nasrani, Buddha, Zoroaster, dan sebagainya.Masyarakat Yunani yang terkenal dengan pemikiran-pemikiran filsafatnya, tidak banyak membicarakan hak dan kewajiban wanita. Di kalangan elite mereka, wanita-wanita ditempatkan (disekap) dalam istana-istana. Dan di kalangan bawah, nasib wanita sangat menyedihkan. Mereka diperjualbelikan, sedangkan yang berumah tangga sepenuhnya berada di bawah kekuasaan suaminya. Mereka tidak memiliki hak-hak sipil, bahkan hak waris pun tidak ada. Pada puncak peradaban Yunani, wanita diberi kebebasan sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan dan selera lelaki. Hubungan seksual yang bebas tidak dianggap melanggar kesopanan, tempat-tempat pelacuran menjadi pusat-pusat kegiatan politik dan sastra/seni Patung-patung telanjang yang terlihat di negara-negara Barat adalah bukti atau sisa pandangan itu. Dalam pandangan mereka, dewa-dewa melakukan hubungan gelap dengan rakyat bawahan, dan dari hubungan gelap itu lahirlah
“Dewi Cinta” yang terkenal dalam peradaban Yunani.
Dalam peradaban Romawi, wanita sepenuhnya berada di bawah kekuasaan ayahnya. Setelah kawin, kekuasaan tersebut pindah ke tangan sang suami. Kekuasaan ini mencakup kewenangan menjual, mengusir, menganiaya, dan membunuh Keadaan tersebut berlangsung terus sampai abad ke-6 Masehi. Segala hasil usaha wanita, menjadi hak milik keluarganya yang laki-laki. Pada zaman Kaisar Constantine terjadi sedikit perubahan yaitu dengan diundangkannya hak pemilikan terbatas bagi wanita, dengan catatan bahwa setiap transaksi harus disetujui oleh keluarga (suami atau ayah).
Peradaban Hindu dan Cina tidak lebih baik dari peradabanperadaban Yunani dan Romawi. Hak hidup seorang wanita yang bersuami harus berakhir pada saat kematian suaminya; istri harus dibakar hidup-hidup pada saat mayat suaminya dibakar. Ini baru berakhir pada abad ke-17 Masehi. Wanita pada masyarakat Hindu ketika itu sering dijadikan sesajen bagi apa yang mereka namakan dewa-dewa. Petuah sejarah kuno mereka me ngatakan bahwa “Racun, ular dan api tidak lebih jahat daripada wanita.” Sementara itu dalam petuah Cina kuno diajarkan “Anda boleh mendengar pembicaraan wanita tetapi sama sekali jangan mempercayai kebenarannya.”
Dalam ajaran Yahudi, martabat wanita sama dengan pembantu.
Ayah berhak menjual anak perempuan kalau ia tidak
mempunyai saudara laki-laki. Ajaran mereka menganggap wanita sebagai
sumber laknat karena dialah yang menyebabkan Adam terusir dari surga.
Dalam pandangan sementara pemuka/pengamat Nasrani ditemukan bahwa
wanita adalah senjata Iblis untuk menyesatkan manusia. Pada abad ke-5
Masehi diselenggarakan suatu konsili yang memperbincangkan apakah
wanita mempunyai ruh atalu tidak, Akhirnya terdapat kesimpulan bahwa
wanita tidak mempunyai ruh yang suci. Bahkan pada abad ke-6 Masehi
disselenggarakan suatu pertemuan untuk membahas apakah wanita manusia
atau bukan manusia. Dari pembahasan itu disimpulkan bahwa wanita
adalah manusia yang diciptakan semata-mata untuk melayani laki-laki.
Sepanjang abad pertengahan, nasib wanita tetap sangat
memprihatinkan, bahkan sampai tahun 1805 perundang-undangan
Inggris mengakui hak suami untuk menjual istrinya, dan sampai tahun 1882
wanita Inggris belum lagi memiliki hak pemilikan harta benda
secara penuh, dan hak menuntut ke pengadilan.Ketika Elizabeth Blackwill – yang merupakan dokter wanita pertama di dunia - menyelesaikan studinya di Geneve University pada tahun 1849, teman-temannya yang bertempat tinggal dengannya memboikotnya dengan dalih bahwa wanita tidak wajar memperoleh pelajaran, Bahkan ketika sementara dokter bermaksud mendirikan Institut Kedokteran untuk wanita di Philadelphia, Amerika Serikat, Ikatan Dokter setempat mengancam untuk memboikot semua dokter yang bersedia mengajar di sana.
Demikian selayang pandang kedudukan wanita sebelum, menjelang, dan sesudah kehadiran Al-Quran. Nah, situasi dan pandangan yang demikian tentunya tidak sejalan dengan petunjuk-petunjuk Al-Quran. Disisi lain, sedikit atau banyak pandangan demikian mempengaruhi pemahaman sementara pakar terhadap redaksi petunjuk-petunjuk Al-Quran sebagaimana akan disinggung berikut ini.
ASAL KEJADIAN PEREMPUAN
Berbicara mengenai kedudukan wanita, mengantarkan kita agar terlebih dahulu mendudukkan pandangan Al-Quran tentang asal kejadian perempuan. Dalam hal ini, salah satu ayat yang dapat diangkat adalah firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 13,
“Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (terdiri) dan lelaki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa.”
Ayat ini berbicara tentang asal kejadian manusia - dan seorang lelaki dan perempuan – sekaligus berbicara tentang kemuliaan manusia – baik lelaki maupun perempuan - yang dasar kemuliaannya bukan keturunan, suku, atau jenis kelamin, tetapi ketakwaan kepada Allah Swt. Memang, secara tegas dapat dikatakan bahwa perempuan dalam pandangan
Al-Quran mempunyai kedudukan terhormat.
Dalam hal ini Mahmud Syaltut, mantan Syekh Al-Azhar, menulis
dalam bukunya Min Tawjihat Al-Islam bahwa,
“Tabiat kemanusiaan antara lelaki dan perempuan hampir
dapat (dikatakan) sama. Allah telah menganugerahkan kepada
perempuan- sebagaimana menganugerahkan kepada lelaki – potensi dan
kemampuan yang cukup untuk memikul tanggung jawab, dan
menjadikan kedua jenis kelamin ini dapat melaksanakan
aktivitas-aktivitas yang bersifat umum maupun khusus. Karena itu,
hukum-hukum syariat pun meletakkan keduanya dalam satu kerangka. Yang
ini (lelaki) menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin,
melanggar dan dihukum, menuntut dan menyaksikan, dan yang itu
(perempuan) juga demikian, dapat menjual dan membeli, mengawinkan dan
kawin, melanggar dan dihukum, serta menuntut dan menyaksikan.”
Ayat Al-Quran yang populer dijadikan rujukan dalam pembicaraan tentang asal kejadian perempuan adalah firmanAllah dalam surat An-Nisa, ayat 1:
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari nafs yang satu (sama), dan darinya Allah menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan lelaki dan perempuan yang banyak.”
Banyak sekali pakar tafsir yang memahami kata nafs dengan
Adam, seperti misalnya Jalaluddin As-Suyuthi, Ibnu Katsir,
Al-Qurthubi, Al-Biqa’i, Abu As-Su’ud, dan lain-lain. Bahkan
At-Tabarsi, salah seorang ulama tafsir bermazhab Syi’ah (abad ke-6 H) mengemukakan dalam tafsirnya bahwa seluruh ulama tafsir sepakat mengartikan kata tersebut dengan Adam.
Beberapa pakar tafsir seperti Muhammad ‘Abduh, dalam tafsir
Al-Manar, tidak berpendapat demikian; begitu juga rekannya
Al-Qasimi, Mereka memahami arti nafs dalam arti “jenis.” Namun demikian, paling tidak pendapat yang dikemukakan pertama itu, seperti yang ditulis Tim Penerjemah Al-Quran yang diterbitkan oleh Departemen Agama. adalah pendapat mayoritas ulama.
Dari pandangan yang berpendapat bahwa nafs adalah Adam, dipahami pula bahwa kata zaujaha, yang arti harfiahnya adalah “pasangannya,” mengacu kepada istri Adam, yaitu Hawa.
Agaknya karena ayat diatas menerangkan bahwa pasangan tersebut diciptakan dari nafs yang berarti Adam, para penafsir terdahulu memahami bahwa istri Adam (perempuan) diciptakan dari Adam sendiri. Pandangan ini, kemudian melahirkan pandangan negatif terhadap perempuan, dengan menyatakan bahwa perempuan adalah bagian dari lelaki. Tanpa lelaki, perempuan tidak akan ada. Al-Qurthubi, misalnya, menekankan bahwa istri Adam itu diciptakan dari tulang rusuk Adam sebelah kiri yang bengkok, dan karena itu “wanita
bersifat ‘auja’ (bengkok atau tidak lurus).”
Kitab-kitab tafsir terdahulu hampir sepakat mengartikannya demikian- Pandangan ini agaknya bersumber dari sebuah hadis yang menyatakan:
“Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok… (HR At-Tirmidzi dari Abu Hurairah).
Hadis diatas dipahami oleh ulama-ulama terdahulu secara harfiah. Namun tidak sedikit ulama kontemporer memahaminya secara metafora, bahkan ada yang menolak kesahihan
(kebenaran) hadis tersebut.
Yang memahami secara metafora berpendapat bahwa hadis diatas memperingatkan para lelaki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana, karena ada sifat, karakter, dan kecenderungan mereka yang tidak sama dengan lelaki – hal mana bila tidak disadari akan dapat mengantarkan kaum lelaki bersikap tidak wajar. Mereka tidak akan mampu mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan, kalaupun mereka berusaha akibatnya akan fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.
Ath-Thabathaba’i dalam tafsirnya menulis, bahwa ayat diatas menegaskan bahwa “perempuan (istri Adam) diciptakan dari jenis yang sama dengan Adam, dan ayat tersebut sedikit pun tidak mendukung paham sementara mufasir yang beranggapan bahwa perempuan diciptakan dari tulung rusuk Adam. Kita dapat berkata, bahwa tidak ada satu petunjuk yang pasti dari ayat Al-Quran yang dapat mengantarkan kita untuk menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk, atau bahwa unsur penciptaannya berbeda dengan lelaki. Ide ini, seperti ditulis Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar-nya, timbul dan ide yang termaktub dalam Perjanjian Lama (Kejadian II: 21-22) yang menyatakan bahwa ketika Adam tidur lelap, maka diambil oleh Allah sebilah tulang rusuknya, lalu ditutupkannya pula tempat itu dengan daging. Maka dari tulang yang telah dikeluarkan dan Adam itu, dibuat Tuhan seorang perempuan.
“Seandainya tidak tercantum kisah kejadian Adam dan Hawa dalam Kitab Perjanjian Lama seperti redaksi diatas, niscaya pendapat yang menyatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk Adam tidak pernah akan terlintas dalam benak seorang
Muslim,” demikian Rasyid Ridha- (Tafsir Al-Manar IV: 330)
Bahkan kita dapat berkata bahwa sekian banyak teks
keagamaan mendukung pendapat yang menekankan persamaan unsur kejadian
Adam dan Hawa, dan persamaan kedudukannya, antara lain surat
Al-Isra’ ayat 70,“Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan (untuk memudahkan mereka mencari kehidupan). Kami beri mereka rezeki yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempuma atas kebanyakan makhluk-makhluk yang Kami ciptakan.”
Tentu, kalimat anak-anak Adam mencakup lelaki dan perempuan, Demikian pula penghorrnatan Tuhan yang diberikan-Nya itu mencakup anak-anak Adam seluruhnya, baik perempuan maupun lelaki. Pemahaman ini dipertegas oleh surat Ali-Imran ayat
195 yang menyatakan,
“Sebagian kamu adalah bagian dari sebagian yang lain …”
Ini dalam arti bahwa sebagian kamu (hai umat manusia yang berjenis lelaki) berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma lelaki dan sebagian yang lain (hai umat manusia yang berjenis perempuan) demikian juga halnya. Kedua jenis kelamin ini sama-sama manusia, dan tidak ada perbedaan diantara mereka dari segi asal kejadian serta kemanusiaannya.
Dengan konsiderans ini, Tuhan menegaskan bahwa:
Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal, baik lelaki maupun perempuan (QS Ali ‘Imran [3]:
195)
Ayat ini dan semacamnya adalah usaha Al-Quran untuk mengikis habis segala pandangan yang membedakan lelaki dengan perempuan, khususnya dalam bidang kemanusiaan.
Dalam konteks pembicaraan tentang asal kejadian ini, sementara ulama menyinggung bahwa seandainya bukan karena Hawa, niscaya kita tetap akan berada di surga. Disini sekali lagi ditemukan semacam upaya mempersalahkan perempuan.
Pandangan semacam itu jelas sekali keliru, bukan saja karena sejak semula Allah telah menyampaikan rencana-Nya untuk menugaskan manusia sebagai khalifah di bumi (QS 2: 30), tetapi juga karena dari ayat-ayat Al-Quran ditemukan bahwa godaan dan rayuan Iblis itu tidak hanya tertuju kepada perempuan (Hawa) tetapi juga kepada lelaki. Ayat-ayat yang membicarakan godaan, rayuan setan, serta ketergelinciran Adam dan Hawa diungkapkan dalam bentuk kata yang menunjukkan
kesamaan keduanya tanpa perbedaan, seperti,
Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya… (QS, Al-A’raf [7]: 20).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar